dear friends

Catch Up

Diary for and from a dear friend #1

13 October 2011

Alhamdulillah”, ucapku dengan senang hati setelah rangkai demi rangai “pesan” aka “sms” aku kirim untuk temanku dan berbuah balasan yang sangat manis… Beberapa bulan ini selama bulan puasa dan setelah lebaran, kami jarang sekali bertemu,bahkan berkirim pesanpun jarang, karena memang kami ingin intens memanfaatkan bulan suci ramadhan dengan amalan-amalan baik dan ibadah. Tapi melupakan persahabatan aku dan dia (aku memanggilnya dear friend) yang bisa dikatakan unik tidak sedikitpun dalam pikiranku. Begitu pula dia, aku yakin itu. Bagiku, adakalanya persahabatan itu bagaikan melakukan perjalanan jauh, butuh istirahat sejenak untuk merecharge. Aku pun begitu, aku ingin ‘silent’ (tidak memberi dan menanyakan kabar) saja beberapa waktu bagiku itu biasa dan akupun enjoy saja. Dan ini membuat sahabatku bertanya

“you will be honest to me, won’t you?”

“What’s up?”

aku balas “yes, I will, what’s up what?”.

“Oh, you aren’t mad, only silent”, katanya.

Aku bilang iya. Setelah beberapa waktu, giliran aku yang bertanya,

“How are you? No sounds…I meant no sounds is silent”.

dia pun membalas yang membuatku agak terenyuh

“ I’m the same as you…silent/no sounds”.

Diary for and from a dear friend #2

Malam itu, aku senang setelah diberitahunya kalau dia akan mengajar di salah satu SMA terbaik di kota Depok. Senang juga karena ternyata jadwal hari dia mengajar sama dengan jadwalku, Senin, Selasa, dan Rabu. Karenanya kami masih punya waktu untuk bertemu, kalo tidak Kamis, ya Jum’at. Dengan antusiasnya dia bercerita hari pertama dia di sana, sangat kelihatan dan kurasakan dia sangat senang mendapatkan kesempatan mengajar di sana.

“The boys, they’re funny, and the girls, they’re shy…”, ujarnya.

“How much time do you think I should give students before I lock the door once class has begun?”,

“They come to class 20 minutes late-I’m locking the door: no entry after (10 mins??? Once class has begun) tanyanya kepadaku.

“10 minutes is fine…” jawabku.

Aku memang belum pernah “lock the door” kalau mengajar, berhubung siswa yang aku ajar adalah taruna yang tingkat kedisiplinannya tidak diragukan lagi…(pengalamanku lho ya..).

Aku bilang, to be strict to students who often come late is badly needed. Diapun sependapat, strict bukanlah “get angry”, tapi lebih pada seperti apa yang dikatakannya

“I’m making a list of consequences for each of their bad behaviors”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s